ARTICLE AD BOX
Jakarta -
Ekonomi Indonesia masih banyak bergantung pada penerimaan negara dan devisa dari hasil ekspor CPO dan turunannya sumber daya hayati serta pertanian lainnya. Menurut Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam KLHK, Tasdianto, Indonesia harus menuju produksi dan distribusi yang rendah emisi karbon bahkan nol emisi termasuk pada produk-produk yang ramah lingkungan dan rendah emisi karbon.
Indonesia mempunyai potensi ekonomi hijau yang sangat besar dari proses perdagangan karbon. Bahkan menurut perhitungan KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) dari perdagangan karbon tersebut bisa meraih Rp 350 triliun.
Salah satu perdagangan karbon ini berasal dari pengolahan limbah kelapa sawit menjadi biochar. Limbah yang dimaksud mulai sisa tandan kelapa sawit, pelepah (daun), hingga batang pohon yang sudah tidak digunakan lagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Biasanya limbah ini akan dibiarkan membusuk begitu saja yang nantinya malah menjadi penghasil ekonomi karbon dan masalah lingkungan lainnya. Padahal kalau ini diolah menjadi biochart, nilai ekonomi bisa mencapai US$ 5,85 miliar. Hal ini belum termasuk hasil penjualan produk sawit sendiri.
"Biochar dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki tanah perkebunan kelapa sawit, dengan demikian biochar dapat sebagai alternatif mencegah terlepasnya karbon dioksida dan gas metana ke atmosfer sebagai gas rumah kaca. Di sisi lain juga dapat meminimalisir limbah dari program peremajaan sawit," ungkp Tasdianto dikutip dari saluran YouTube KLHK, Sabtu (17/8/2024).
Biochar memiliki fungsi sebagai penyubur tanah. Hal itu karena biochar dapat menyimpan cadangan air 3 hingga 6 kali lipat dai ukurannya sendiri. Selain itu rongga-rongga pada biochart dapat berfungsi sebagai rumah bagi mikroba. Mikroba bermanfaat untuk perombak bahan-bahan organik, sehingga tanah menjadi subur.
"Biochar itu adalah tempat yang nyaman bagi mikroba. Kalau mikroba tempatnya nyaman, makanan nyaman, dia tumbuh pesat dan akan melaksanakan tugasnya dengan baik menyuburkan tanah. Nah jadi biochar itu selain dia itu bisa menyimpan karbon dia juga bisa menginjus, bisa menyebabkan tanah itu menghasilkan biomassa lebih berlimpah," ujar Pakar Biochar, Kesehatan, Kesuburan Tanah Kementerian Pertanian RI, Dedi Nursyamsi, dalam kesempatan yang sama.
Karena bentuknya yang berupa karbon padat, arang hasil olahan limbah sawit ini tidak mengeluarkan emisi karbon.
"Karbon yang sudah dalam bentuk padat itu atau biasa kita sebut sebagai biomas, itu bisa kita rubah menjadi biochart. Biochar itu bahasa awamnya arang pokoknya. Arang melalui proses pembakaran minim oksigen atau tanpa oksigen," jelasnya.
Ia menjelaskan potensi biochar di Indonesia yang dapat menyuburkan tanaman. Untuk diketahui, saat ini Indonesia memiliki 16,5 juta hektare kelapa sawit. Setiap hektarnya dapat menghasilkan kurang lebih 4 ton CPO menjadi berbagai macam produk turunan.
"Sawit juga menghasilkan kurang lebih 50 ton biomassa ya per hektare. Bayangkan ada 50 ton biomassa per per hektare. Nah, di antaranya adalah ada dari tandan kelapa sawit, tandan kosong kelapa sawit di antaranya juga ada pelepah di antaranya juga ada tentunya pohonnya, di antaranya ada juga ya buahnya yang jadi CPO," imbuh Dedi.
Di luar itu, ia menyebut setiap tahun sekitar 670.000 hektar kelapa sawit harus diremajakan. Artinya sawit-sawit ini harus ditebang dan menjadi sumber emisi baru.
Jika dihitung, dalam setahun sektor ini bisa menghasilkan sekitar 58,5 juta ton karbon. Karbon-karbon ini jika diolah menjadi biochart dapat memberikan nilai ekonomi hingga US$ 5,85 miliar.
"Potensi biochart dari sawit itu bisa dihitung menjadi ekonomi karbon kurang lebih US$ 100 US per ton. Nah tinggal dikalikan aja tadi 58,5 juta ton, dikalikan dengan US$ 100. Jadi kalau dirupiahkan, sawit dari limbahnya saja sekian itu ketemu angkanya (US$ 5,85 miliar)," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Carbon Inisiatif Indonesia (CII) Audey Sjofjan memperkirakan potensi yang dimiliki Indonesia dari pengolahan biochart dan hasil produksi sawit (CPO) bisa mencapai US$ 14,85 miliar.
"Saya langsung saja lah ke angka duit, saat ini ada 3 juta hektar kebun tua yang perlu diremajakan. Nah nilai dari 3 juta hektar itu nilainya ada 2, nilai dari biochart dan karbon kredit itu ada US$ 6,7 miliar," kata Audey.
"Setiap tahun yang tadi disertakan (Dedi) itu ada sekitar 670.000 hektar yang kita harus melakukan peremajaan. Uangnya itu setiap tahun US$ 1,3 miliar, setiap tahun. Nah ini dua yang ada di dalam perkebunan. Nah yang kalau di dalam pabrik kita total, yang bisa kita bisa dapat dari penjualan karbon kredit dan materialnya (CPO) itu hampir US$ 15 miliar (US$ 14,85 miliar) per tahun," paparnya lagi.
(prf/ega)